Mew

Mew – And The Glass Handed Kites

Won’t you mind not to look on the album cover?

Ya, jangan lihat, sekali lagi, JANGAN lihat cover album-nya. It’s one of the worst album covers in the world, kalau cover-cover album tahun 80-an yang pamer otot tidak dihitung tentu saja. Tapi, aside from the covers, album ini bukan tidak mengecewakan lagi, tapi bahkan bisa dengan mudah menjadi album favorit anda! Dare i say this.

Mew adalah sebuah band dari Denmark yang menarik. Dipimpin oleh vokalis/gitaris mereka Jonas Bjerre yang jenius, mereka menghasilkan musik unik, dan seperti musik unik lainnya, mereka tends to cross many genres, mulai dari alternative/pop rock, dream pop, shoegaze dan bahkan progressive! Hasilnya? Musik atmospheric kompleks penuh kejutan di setiap detiknya.

Then what am i waiting for? Review the songs one by one! Oke, oke, gw tau gw mulai jarang buat review album per track, jadi mungkin anda-anda semua mulai bosan dengan review-review pendek. Tapi i have a life, you know. Yah, tapi sekarang gw akan mereview album ini lebih detil. Lagu pertama adalah sebuah instrumental menarik berjudul Circuitry of the Wolf. Cukup menghentak dan mulai menunjukkan pengaruh progresif mereka, it serves as a very nice intro. Sangat, sangat asyik. Dan langsung menyambung ke lagu selanjutnya, Chinaberry Tree. Oh ya, semua lagu di album ini menyambung, jadi bisa dianggap anda sedang mendengarkan a 54 minutes song. Kembali ke lagu, lagu ini sangat indah, dengan beberapa bagian kontras, atmosfer yang hangat dan indah khas shoegaze, penggunaan synthesizer mulai terlihat jelas pada lagu ini. Beautiful, damn beautiful.

Selanjutnya, Why Are You Looking Grave? Sekarang, vokal Jonas Bjerre cukup dominan, dan hasilnya indah. Suaranya yang bernada tinggi benar-benar apik dan cocok dengan suasana hangat yang dihasilkan musiknya. Kembali dengan tempo berubah-ubah khas progressive, tapi karena dibalut suara Jonas jadi tidak begitu terlihat. Next song in line is Fox Cub. Lagu ini bertempo slow, berdurasi pendek dan berfungsi sebagai semacam interlude. Meskipun begitu, atmosfernya masih terasa, yang membuat kita berpikir seolah seluruh album ini adalah satu lagu yang padu, bukan beberapa lagu yang digabung menjadi satu. Berikutnya ada Apocalypso, yang kembali dengan drum fill yang menghentak, suara Jonas yang anehnya mengingatkan pada Jonsi dari Sigur Ros, Jon Anderson dari Yes, dan Avey Tare dari Animal Collective pada saat yang bersamaan, dan synthesizer yang indah dan ‘basah’.

Next is Special, salah satu hit song di album ini. Dengan guitar hook yang mudah diingat, drum beat yang lebih normal, dan reff yang enak untuk sing-along, meskipun tetap dengan synthesizer yang dominan dan tempo aneh, lagu ini cukup kontradiktif, both pop and complex at the same time. Berikutnya ada satu lagi hit, The Zookeeper’s Boy. Yang ini lebih panjang dan kompleks dibanding sebelumnya, meskipun tetap menjaga hook yang asyik. My favorite song on the album. Backing vocal-nya benar-benar mengingatkan pada harmoni vokal yang khas dari band Yes. Sayangnya, lagu ini juga yang terakhir dari lagu-lagu terbaik di album ini, or so i thought. Trek selanjutnya, The Dark Design mempunyai a peculiar intro, mengingatkan pada intro lagu Watcher of the Skies dari band Genesis. Suara Jonas mendominasi di sini tanpa interlude seperti di lagu-lagu sebelumnya, dan sebagai hasilnya lagu ini cukup pendek, sebelum menyambung pada salah satu lagu dengan judul yang amusing, Saviours of Jazz Ballet (Fear Me, December) yang awalnya melanjutkan tempo cepat lagu sebelumnya, namun kembali pada pergantian tempo dan sedikit interlude sebelum kembali menghentak meskipun tetap have a slower feeling dan akhirnya mencapai coda yang tidak disangka-sangka.

The 8th song on the album is called An Envoy To Open Fields. Intronya bisa menipu, karena lagu ini memiliki beat yang lebih steady dengan riff yang enak meskipun hanya sebagai background. I told you before, it’s the synthesizer which steals the spotlight. Tetap delicate dan memiliki atmosfer hangat-basah khas shoegaze, meskipun di lagu ini backing vokal-nya agak terasa mainstream. Next is another interlude, Small Ambulance yang hanya berdurasi satu menit saja. Drum beat pada intro-nya cukup menarik, dan dilanjutkan dengan unik, hanya dengan vocalization dari Jonas saja, tanpa lirik meskipun menjadi agak terasa filler. And this filler feeling actually continues until the next track, The Seething Rain Weeps For You (Uda Pruda), satu lagi lagu dengan judul yang amusing. Meskipun masih indah dan asyik, tapi entah mengapa, mungkin karena sudah mencapai waktu yang agak lama, jujur lagu yang satu ini mulai terasa boring. Mungkin satu lagu yang dipotong bisa menolong?

Setelah tadi, i almost click the stop button. Untung saja tidak, karena much to my surprise trek selanjutnya White Lips Kissed benar-benar awesome. My number 2 favorite. Tempo slow lagu ini awalnya memang bisa membosankan, tapi sabarlah sedikit karena nanti akan muncul atmosfer dan suasana hangat yang sangat indah dan nada-nada menenangkan, yang hasilnya sangat memuaskan dan sangat shoegaze, dengan cymbal menghantam memberi wall of sound bergaya shoegaze pula di beberapa tempat. Banyak sekali pergantian tempo yang tidak bisa ditebak, dan suara Jonas sangat mengesankan disini. The last one, Louise Louisa mengikuti formula yang mirip, dan sebenarnya dapat berasa antiklimaks terkadang karena dua lagu berstruktur mirip di akhir album sebenarnya bukan hal yang bagus. Meskipun drum fill di tengah lagu really got me. Overall, a masterpiece, baik dalam musik maupun lirik, bahkan dalam kualitas produksi suara they stand out. One word : Atmosphere.

Leaning Curve : Short-Medium
Complexity : Medium-Complex
Addictivity : Very High
Production Quality : Very High

Overall : 9.5/10