Atheis

Atheis, Sebuah Roman Antara Agama dan Atheisme


Jujur, saya terkejut, amat sangat terkejut saat membaca novel karangan Achdiat Karta Miharja ini. Awalnya kukira sebuah roman, dengan gaya bahasanya yang terkenal membingungkan, kuno, dan statis, tidak akan menyenangkan untuk dibaca. Apalagi dengan cerita yang terkesan ketinggalan jaman. Tapi saya salah. Benar-benar salah. Memang sebuah cerita tidak mengenal jaman, tidak mengenal batasan ruang dan waktu dan tetap abadi. Meskipun buku ini sudah berusia lebih dari setengah abad, tapi tetap saja amat menarik untuk dibaca.

Novel ini (atau roman, lebih enak disebut roman) ternyata tidak terlalu tebal, dengan hanya 232 halaman. Terbit pada tahun 1949 dan terus dicetak ulang hingga kini (saya sendiri mendapat cetakan kelima belas-atau enam belas? Tidak terlalu memperhatikan..) dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, layaknya beberapa roman lainnya. Butuh dua hari bagi saya membaca roman ini sampai tuntas, meskipun cukup pendek dibanding banyak novel masa kini.

Sebenarnya itu lebih karena gaya bahasa yang digunakan. Jujur, ini roman pertama yang saya baca dan mungkin beberapa dari kalian yang pernah membaca sebuah roman tahu sendiri gaya bahasa khas roman seperti apa. Meskipun, sebenarnya roman ini lebih ringan dibanding beberapa roman lain yang muncul lebih dulu dan cukup mengarah ke masa kini. Tidak terlalu banyak kata asing yang digunakan dan bahasa Indonesia-nya pun cukup baku meskipun masih ada beberapa kata serapan Melayu.

Tapi, gaya bahasa yang digunakan Bung (bisa saya sebut bung? Toh dia angkatan ’45) Achdiat benar-benar bagus. Bagus, sangat bagus dalam pembawaan cerita. Mulai dari metafora yang banyak terdapat di bagian-bagian cerita juga pemaparan detail latar cerita, yaitu Kota Bandung dan sekitarnya. Meskipun mendetil, namun tetap bisa enak dibaca, tidak menyimpang dari cerita serta tidak membuyarkan konsentrasi saya dalam membaca.

Dan gaya bahasa seperti itu memang cocok dengan ceritanya. Ceritanya awalnya cukup sederhana, mengenai seorang bernama Hasan, keturunan priyayi yang sejak kecil dididik secara agama oleh orang tuanya, dan bekerja sebagai gemeente atau pegawai pemerintah di Bandung, namun saat dia bertemu dengan teman masa kecilnya Rusli yang sudah menjadi seorang ateis dan komunis mulai membuatnya bimbang. Perlahan-lahan ia mulai terpengaruh oleh Rusli. Terlebih lagi dengan adanya Kartini, wanita yang dicintai Hasan dan Anwar, teman Rusli yang meskipun anak bupati tetapi ateis bahkan nihilis. Mulai muncul kebimbangan di hati Hasan.

Nah, dalam menggambarkan kebimbangan dan konflik batin dalam diri Hasan inilah saya anggap Bung Achdiat berhasil, sukses besar menggambarkannya dengan teramat baik, detil namun tetap menyentuh hati pembaca (dengan kata lain, saya. Saya tidak tahu bagaimana pembaca yang lain, tapi saya cukup tersentuh). Dalam roman ini sendiri alur yang digunakan maju mundur dan fleksibel, dipenuhi flashback yang memukau.

Dalam menggambarkan tokoh pun Bung Achdiat bisa mengatur sifat dan watak tokoh tanpa terlalu stereotip ataupun karikatur. Misalnya tokoh Hasan yang awalnya alim, lugu dan berhati teguh, namun lama kelamaan berubah dan kehilangan sifat alimnya. Juga tokoh Anwar (dalam penggambaran sikap, Anwar-lah tokoh yang paling baik digambarkan perliakunya oleh Bung Achdiat) yang bersifat tak acuh pada dunia, nihilis, tanpa tedeng aling-aling, semau gue bahkan mata keranjang. Juga Kartini sebagai tokoh perempuan yang modernis dan progresif, dapat digambarkan dengan sangat baik.

Saya tadi di atas menyebutkan penggambaran detail yang sangat baik. Ya, latar cerita yang bertempat di Kota Bandung dan sekitarnya saat jaman penjajahan Belanda dan Jepang, kira-kira tahun 1940-1942 dalam roman ini dapat dipaparkan dengan sempurna (ya, saya tidak takut untuk menyebutnya sempurna) sehingga saya merasa berada di tengah-tengah suasana latar tersebut, melihat Hasan menaiki sepeda ontelnya di jalanan Bandung ataupun bersama Anwar di kereta api. Dan jarang sekali ada novel ataupun roman yang dapat membuat saya merasa begini.

Meskipun, satu kelemahan menurut saya di roman ini adalah amanat dari cerita ini tidak begitu jelas, sangat tersirat meskipun bagi orang seperti saya yang suka menebak makna sebuah kata malah dapat menjadi suatu kelebihan tersendiri. Mungkin menurut saya sendiri, amanat dari roman ini adalah “kita harus berpegang teguh pada agama” atau “kita harus memiliki keteguhan hati dan keyakinan kuat” tapi biarlah kalian pembaca yang menebaknya sendiri.

Secara keseluruhan, meskipun roman ini bukanlah sebuah roman yang sempurna namun roman ini sangat baik, dengan berbagai konsep yang diterapkan Bung Achdiat seperti mengandaikan cerita ini selayaknya sebuah Dichtung und Warnheit atau novel autobiografis tentang Hasan si tokoh utama, dan bahkan mengandaikan seolah-olah dirinya sendiri ada sebagai kenalan Hasan yang “melengkapi cerita yang tidak selesai” (ataukah Bung Achdiat memang berkata yang sebenarnya? Saya tidak tahu).

Roman ini saya rekomendasikan bagi setiap penikmat dan pencinta novel maupun cerita-cerita, atau orang yang tertarik pada novel/roman/cerita. Jika saya harus member nilai konkrit, mungkin dapat saya beri nilai 9 dalam skala 10.